SEJARAH DAN TRADISI PADA MAKAM PO
TEUMEUREUHOM
(Aceh Jaya)
Pendahuluan
Aceh adalah salah satu wilayah
negara republik Indonesia yang begitu beragam dengan kekayaan alam dan
budayanya. Saat ini Aceh lebih dikenal dengan nama Nanggroe Aceh Darussalam.
Aceh di masa lalu sebenarnya memiliki sejarah yang sangat panjang dan kompleks,
terutama dalam perannya membentuk negara kesatuan republik Indonesia.
Pada masa lalu, sebelum adanya
Indonesia, Aceh adalah suatu kerajaan yang sangat kaya raya. Perdagangan di bandar-bandar
Aceh bertambah maju setelah Portugis mengalahkan Malaka pada tahun 1511,
bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Takut pada Portugis, para
pedagang dari Asia dan Arab mulai menghindari Selat Malaka dan beralih ke
pelabuhan-pelabuhan di Aceh.
Sejak itu, dominasi Aceh dalam
perdagangan dan politik di wilayah itu menguat, dan mencapai puncaknya antara
tahun 1610 dan 1640. Karena hidup dalam komunitas terbatas selama beratus-ratus
tahun, darah Portugis masih mengalir dalam diri sebagian masyarakat Lamno,
terutama yang menetap di Kuala Daya dan Lambeuso serta Ujong Muloh.
Selain identik sebagai daerah asal
gadis bermata biru, Lamno juga dikenal sebagai negeri para raja. Tokoh yang
sering disebut misalnya Po Teumeureuhom. Bernama lengkap Sultan Alaidin Ri’ayat
Syah, dia lah yang membawa Islam menyebar ke kawasan itu.
Pemerhati budaya di Lamno
mengatakan, Po Teumeureuhom berasal dari kerajaan Samudra Pasai. Bersama
rombongannya, dia mulai melakukan perjalanan mulai dari Desa Mareu mengikuti arah
hulu sungai dan kemudian menyisir kawasan pesisir pantai. Dan rombongannya
kemudian berhasil menaklukkan raja-raja kecil disepanjang aliran sungai.
Di kawasan itu, awalnya terdapat
kerajaan meliputi kerajaan Lamno, Keuluang Daya, Kuala Unga dan Kuala Daya.
Setelah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil itu, Po Teumeureuhom tak
langsung membubarkannya. Namun Wilayah yang ditaklukinya diberikan hak otonomi
dan tunduk dalam Kerajaan Daya atau yang dikenal dengan Meureuhom Daya.
Sebagai bentuk terima kasih rakyat
kepada sang raja, digelar lah upacara Peumeunap dan Sumeuleung. Dalam upacara
itu raja disuapi nasi yang berasal dari hasil panen terbaik. Upacara penabalan
raja ini kemudian dikenang dan dilangsungkan sampai sekarang setiap tanggal 10
Zulhijjah atau pada hari raya kurban (Idul Adha).
Pada kesempatan kali ini, saya
mencoba melakukan penelusuran ke salah satu makam salah seorang waliyullah yang
bernama Sulthan Salatin Alaiddin Ri’ayat Syah atau lebih dikenal Po Teumereuhom
Daya atau Cik Po Kandang. Makam beliau terletak di Gampong Glee Jong Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya (Lamno),
Provinsi Aceh. Ketertarikan saya terhadap
“negeri” tersebut, maka kali ini saya akan mencoba menceritakan hal-hal
unik dan sejarah makam tersebut.
Rute
Perjalanan Menuju Ke Makam Po Teumeureuhom

Komplek
makam Po Teumeureuhom tampak dari satelit
Untuk menuju ke makam Po Teumeureuhom
dapat menggunakan jenis transportasi darat seperti sepeda motor, mobil, maupun
bus. Rute yang bisa anda tempus dari jalan nasional Banda Aceh-Melaboh, selepas
pasar lamno ada persimpangan. Berbelok lah ke kanan untuk meneruskan
perjalanan. Jalan tersebut juga untuk menuju ke Dayah BUDI Lamno. Kalau pembaca
bingung langsung tanyakan pada warga sekitar kemana jalan ke Dayah BUDI Lamno.
Karena dayah tersebut satu jalan untuk menuju ke makam Poe Teumeureuhom Daya.
Tetap mengendarai sampai mendekati pantai. Kemudian pandang lah ke atas bukit.
Itulah komplek makam po teumeureuhom daya.
Komplek makam dijaga (khadam) oleh
seorang kakek. Pembaca bisa menanyakan sejarah raja Po Teumereuhom pada kakek
ini. Dalam komplek makam ada balee yang bisa di gunakan untuk tempat istirahat
dan juga di sediakan musalla untuk shalat. Makam Po Teumeureuhom dibangun pagar
pembatas agar tidak boleh dimasuki oleh orang sembarangan dan di luar pagar
makam terdapat air yang terdapat dalam guci masa lalu berbentuk sumur yang di semen ke lantai serta
tidak boleh mengambil air sendiri tanpa diberikan oleh kakek pengkhadam makam.
Dari cerita kakek tersebut, selain makam po teumereuhom ada juga makam
keluarganya dan ada juga pengikut setia beliau.
Siapa
Sultan Shalatin Alaiddin Riayat Syah?

Makam Po Teumeureuhom dan para
pengikutnya
Meureuhom Daya merupakan gelaran
lain yang diberikan oleh masyarakat lokal kepada Sultan Shalatin Alaiddin
Riayat Syah. Selain itu, adapula yang menyebutkan dengan gelaran Chik Po
Kandang. Asal-usul dari keturunannya yang dirunut pada prasasti batu nisan seorang
putri. Prasasti itu berukir indah dan bertuliskan, “Siti Hur binti Sultan
Alaiddin Riayatsyah ibni Raja Madat ibni Abdullah al Malik al Mubin”.
Berdasarkan prasasti batu nisan ini
menjelaskan bahwa Sultan Alaidin Riayat Syah atau Meureuhom Daya adalah putera
Raja Madat atau yang dikenal sebagai Sultan Inayat Syah. Sultan Inayat Syah
adalah putera dari raja Malikul Mubin. Menurut sejarah, Sultan Inayat Syah
pernah menjabat raja di Pidie dan kemudian menaklukkan Darul Kamal dan Kuta
Alam. Kedua negeri ini terletak di Aceh Besar dan Banda Aceh sekarang. Sultan
Inayat Syah disebutkan memiliki tiga orang putera, yaitu Sultan Muzaffar Syah
yang mewarisi Darul Kamal. Selanjutnya Sultan Munawarsyah yang mewarisi Kuta
Alam dan Sultan Alaiddin Riayatsyah yang menjadi raja di negeri Daya. Sedangkan
nama dari dua orang puterinya tidak disebutkan. Ketiga raja tersebut tidak
dijelaskan tahun kelahirannya dan siapa yang tertua di antara mereka. Hikayat
Aceh menyebutkan bahwa Sultan Alaiddin Riayat Syah juga pernah menjadi raja di
Kuta Madat, yang termasuk ke dalam teritorial negeri Pidie.
Raja Abdullah bin Malikul Mubin
yang bergelar Sultan Inayat Syah yang mengetahui bahwa Portugis telah mulai
menanamkan pengaruhnya di pantai Barat Aceh, khususnya di Daya merasa kuatir
akan eksistensi hegemoninya. Pada masa raja inilah dilakukan ekspansi hegemoni
ke negeri Daya yang kala itu masih bernama Indra Jaya untuk ditaklukkan.
Setelah ditaklukkan oleh Sultan Abdullah bin Malikul Mubin, ia meninggalkan
bekas negeri Indra Jaya kembali ke pusat pemerintahan. Selain itu ia juga
mengkuatirkan Pidie dari pengaruh Portugis di bagian Utara Aceh di selat Malaka
sehingga untuk menggantikan posisinya di sana, ditugaskan puteranya Sultan
Alaiddin Riayatsyah yang saat itu sedang berada di Kuta Madat, Pidie. Ekspedisi
kontrol hegemoni ke pesisir Barat Aceh tersebut untuk menjalankan misi;
Pertama, mengintegrasikan kembali raja-raja kecil di bekas Indra Jaya yang
sedang berseteru akibat adanya agitasi dari Portugis, dan mengusir bangsa Peringgi
itu dari sana. Kedua, memperkuat kerajaan di pesisir Barat yang dinilai sudah
melemah karena pengaruh dari kebudayaan asing sekaligus memperkuat kembali
pengaruh Islam di sana.
Menurut pengkhadam makam bahwa
Sulthan Salathin Alaiddin Ri’ayat Syah atau Po Teumeureuhom adalah sahabat dari
Saidina Ali RA. Sebelum beliau menuju ke Negeri Daya atau sekarang disebut
Lamno beliau terlebih dulu singgah di Samudra Pasai.
Tinggalan
Sultan Alaidin Riayat Syah di Daya
Dalam Hikayat Aceh disebutkan bahwa
di penghujung abad ke-15, di lembah Aceh terdapat dua kerajaan, yaitu Meukuta
Alam dan Darul Kamal yang kedua kerajaan ini dipisahkan olah Krueng Aceh. Kedua
kerajaan ini selalu bermusuhan, namun tidak dapat menaklukkan lawannya. Untuk
memperkuat armadanya Kerajaan Meukuta Alam terus memasok persenjataan melalui
teluk Lamri. Dalam Hikayat Aceh disebutkan bahwa dengan kelicikan Sultan Syamsu
Syah bin Sultan Munawarsyah dari Meukuta Alam meminang putri Kerajaan Darul
Kamal untuk dikawinkan dengan Ali Mughayat Syah dan diterima oleh Sultan
Muzaffar Syah, putra Inayat Syah yang memerintah Darul Kamal saat itu. Dalam
arak-arakan peminangan disisipi persenjataan dan dilakukan serangan dadakan
terhadap Darul Kamal sehingga banyak pembesar-pembesar Darul Kamal terbunuh,
termasuk Sultan Muzaffar Syah yang merupakan saudara dari Sultan Alaiddin
Riayat Syah. Sejak saat itu Sultan Syamsu Syah memerintah kedua kerajaan
tersebut. Peristiwa ini terjadi ketika Sultan Alaidin Riayat Syah yang sedang
merintis ekspedisi ke Daya tidak kembali lagi ke pusat kerajaan Darul Kamal
yang sudah dikuasai oleh Sultan Syamsu Syah dari Meukuta Alam. Sejak saat itu
Sultan Alaiddin Riayat Syah menjadi raja di Kerajaan Daya, sedangkan Darul
Kamal sudah direbut oleh Sultan Syamsu Syah.
Sultan Alaiddin Riayatsyah
diprediksi memerintah di negeri Daya antara tahun 1480-1492 Masehi. Selama
pemerintahannya di sana, beliau berhaasil mengintegrasikan empat negeri, yaitu;
Keuluang, Kuala Daya, Lamno dan Unga (bekas Negeri Indra Jaya). Pusat
pemerintahannya di pusatkan di Kuta Dalam, Lam Kuta Gampong Gle Jong, Kemukiman
Kuala Daya sekarang. Dalam menjalankan roda pemerintahannya sultan dibantu oleh
seorang Wazir merangkap Katibul Muluk, seorang Hakim Tinggi, seorang Mufti
Besar, seorang Panglima, dan beberapa orang Menteri, serta keempat raja dari
negeri Daya yang merangkap sebagai staf sultan dalam setiap sidang perkara yang
dianggap urgen.
Sultan Alaiddin Riayat Syah
meninggal dunia pada 913 H atau 1492 Masehi dan dimakamkan di bukit yang
dinamakan Gle Kandang. Sultan meninggalkan dua orang putera, yaitu Uzir dan
Siti Hur. Setelah kemangkatan ayahandanya, Sultan Uzir diceritakan hanya
memerintah beberapa tahun saja. Sedangkan putrinya yang bernama Siti Hur
diriwayatkan menjadi permaisuri Sultan Ali Mughayat Syah, putra Sultan Syamsu
Syah dan kembali lagi ke Daya sampai mangkat di sana.
Beberapa tinggalan lain dari masa
Sultan Alaiddin Riayatsyah adalah; Pertama, pembangunan di bidang pertanian
dengan intensivikasi, seperti pembuatan sarana dan prasarana seperti pembuatan
irigasi dengan saluran-saluran air, dan melakukan ekstensivikasi dengan
mencetak persawahan baru. Kedua, menumbuhkembangkan solidaritas dan memperkokoh
jatidiri dalam beragama pada masyarakat Daya. Ketiga, melakukan
pengkaderisasian angkatan muda untuk memperkuat angkatan perang. Keempat,
ekstensivikasi perkebunan lada dengan pemberian insentif secukupnya kepada para
petani dan pengusaha.
Tinggalan makam keluarga Sultan
Alaiddin Riayat Syah masih ramai dikunjungi masyarakat bekas negeri Daya untuk
melepaskan nazar atau sekedar mengambil air di dalam guci yang dipercayai dapat
menjadi obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Puncak kedatangan
masyarakat Daya tersebut terjadi pada 10, 11, dan 12 Dzulhijjah, bersamaan
dengan pelaksanaan upacara Peumeunap dan Seumeuleung. Upacara Peumeunap dan
Seumuleueng ini pada awalnya diselenggarakan pada setiap Hari Raya Idul Adha
bertepatan tanggal 10 Dulhijjah untuk memperingati pengukuhan Sultan Alaidin Riayatsyah
sebagai Sultan di Daya. Tradisi ini sempat stagnan setelah Poteumeureuhom
mangkat, namun dilanjutkan kembali pada masa Sultan Jamalul Alam Badrul Munir
yang memerintah kerajaan Aceh tahun 1711-1735 M. Pada saat itu, ia sering
melakukan kontrol hegemoni di wilayah-wilayahnya untuk memperoleh dukungan
karena di Bandar Aceh Darussalam kedudukannya mulai terancam secara internal.
Ia membenahi dan menghidupkan kembali tradisi kerajaan Daya sambil
mengintegrasikan kembali daerah-daerah tersebut dari konflik internal yang
sering terjadi di antara keempat raja di sana. Selama 24 tahun ia berkuasa,
tradisi ini masih diselenggarakan. Setelah Kabupaten Aceh Barat lahir, bekas
negeri Daya terintegrasi ke dalam beberapa kecamatan dalam kabupaten tersebut.
Pada masa ini pelaksanaan tradisi
Peumeunap dan Seumeuleung diundur dari 10 Dzulhijjah menjadi 11 Dzulhijjah,
mengingat pusat pemerintahan jauh dari lokasi pelaksanaan acara ini. Hal ini
dilakukan sebagai wujud sinergis antara pemangku di bekas Kerajaan di Daya
dengan petinggi di pusat pemerintahan di Meulaboh pada saat itu. Saat ini,
bekas daerah negeri Daya telah berintegrasi ke Kabupaten Aceh Jaya, sehingga
ada wacana untuk mengembalikan orisinalitas sesuai aslinya mengingat jarak
antara ibukota pemerintahan Aceh Jaya tidak terlalu jauh dengan Kecamatan Jaya.
Selain upacara Peumeunap dan
Seumeuleung, antusiasme masyarakat di bekas negeri Daya terhadap Poteumeureuhom
sampai saat ini sangat tinggi. Hal ini nampak dari keramaian pengunjung
berziarah ke Makam ini untuk melepas nazar atau sekedar mengambil air dari
dalam “guci keramat” yang ada di kompleks Makam Gle Kandang, pada tanggal 10,
11, dan 12 Dulhijjah, bahkan pada hari-hari biasa pun masih ada saja masyarakat
yang datang ke sana untuk berziarah atau melepas nazar. Selain itu masih banyak
tinggalan di sekitar negeri Daya lainnya seperti: Makam Tuan Gle Pande seorang
ahli persenjataan dan peralatan perang di gampong Pante Ceureumen, Makam Tuan
Beureuha ahli pertanian sawah dan pengairan di Beureuha. Makam Tuan Meuntee
asisten pertanian dan pengairan Tuan Beureuha dekat irigasi Beureuha. Makam
Tuan Po Katong ahli peperangan di hulu Krueng Gapa. Makam Tuan Pante Ceureumen
seorang ahli pemerintahan permukiman, sanitasi, dan kesehatan masyarakat di
Pante Ceureumen. Makam Tuan Mareu ahli astronomi pertanian, pembuka kampung
Mareu di Gampong Sabet. Makam Tuan Paloih ahli kebijakan pertanian, mulai sejak
pembibitan sampai ke penanaman serentak. Makam Tuan Seulatan ahli penjinak
binatang buas, ilmu kebal, juga ilmu besi di selatan Pantee Ceureumen. Makam
Tuan Bak Awe, seorang pengajar karakter masyarakat di Pante Ceureumen. Makam
Tuan Rhang, merupakan anak Tuan Po Katong di hulu Krueng Gapa.
Gle
Kandang dan Kandang Po Teumeureuhom
Menelusuri jejak sejarah lokal negeri
Daya, seperti belum lengkap rasanya jika tidak menjejakkan kaki terlebih dulu
di Kompleks Makam Poteumereuhom yang disebut Gle Kandang. Gle Kandang terletak
di atas sebuah bukit berundak dengan tatakan 99 anak tangga di Gampong Gle
Jong, Kemukiman Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh.
Kompleks makam ini juga disebut juga oleh masyarakat dengan nama Kandang
Poteumeureuhom. “Kandang” di dalam konteks keacehan merupakan suatu kompleks
pemakaman, seperti juga yang dikenal di kerajaan Aceh Darussalam yaitu “Kandang
Aceh”, “Kandang Meuh”, “Kandang Duabelas”, ataupun “Kandang Pirak” di kompleks
pemakaman raja-raja di Aceh.
Jika diamati di Kompleks Makam Raja
Negeri Daya di Gle Kandang, selain makam Poteumeureuhom juga terdapat beberapa
batu nisan dengan Batee Aceh yang kemungkinannya terdiri dari raja, permaisuri,
anak, serta kerabat Dalam. Di antaranya Sultan Alaidin Riayatsyah, Uzir, Siti
Hur serta beberapa makam lainnya. Di Batu Aceh di kompleks pemakaman
Poteumeureuhom Daya, terdapat prasasti pada nisan Siti Hur yang paling indah
dan masih dapat dibaca karena berhuruf arab jawi. Dari sana diketahui bahwa
Siti Hur adalah anak perempuan dari raja Daya Sultan Alaiddin Riayatsyah. Ia
adalah permaisuri dari Sultan Ali Mughayatsyah penguasa pertama yang menyatukan
Kesultanan Aceh Darussalam
Di Gle Kandang saat ini, selain
nisan Batu Aceh dan sebuah guci tempat air wudhuk juga terdapat dua buah tempat
peristirahatan para penzirah. Di tatakan tangganya terdapat dua buah “jambo
peuniyoh” sebagai tempat istirahat para penziarah yang sudah berusia lanjut.
Selain itu, di pelataran bawah terdapat sebuah bangunan balairung berbentuk
rangkang. Selain itu tidak banyak lagi tersisa tinggalan arkeologis lainnya.
Hal itu terjadi setelah daerah ini diluluhlantakkan gempa dan tsunami pada 26
Desember 2004.
Panorama bekas negeri Daya dari
atas bukit Gle Kandang sangat indah. Terlihat hamparan luas menghijau
persawahan dengan bukit-bukit kecil dan pegunungan di Utara negeri ini.
Sedangkan di bagian Baratnya, menghampar biru Samudera Indonesia dengan
pulau-pulau kecil di sekitarnya. Tempat ini sepertinya benar-benar
merepresentasikan “persinggahan terakhir” sang raja yang luar biasa. Sekitar
500 meter dari kompleks Gle Kandang terdapat suatu daerah secara toponim
bernama Kuta Dalam. Kuta Dalam identik dengan kompleks istana Kerajaan Daya.
“Kuta” identik dengan “Benteng” atau “Perkampungan”, sedangkan “Dalam” adalah
“Istana”,“Kompleks Kerajaan” ataupun “Keraton”. Namun tidak ada sedikit pun
tinggalan arkeologis yang dapat menjelaskan secara faktual tentang hal
tersebut. Bukti lain yang bersifat intangible sebagai tinggalan budaya masa
lalu yang bertahan dan sangat unik dalam masyarakat Daya adalah upacara
Peumeunap dan Seumuleueng.
Tradisi
Upacara Seumuleueng
Pada setiap Hari Raya Idul Adha, di
makam ini diadakan upacara "Seumeulueng" yaitu suatu upacara untuk
memperingati Sultan Alaiddin Riatsyah (Po Teumeurehom Daya) yang dilaksanakan
oleh keturunan-keturunan beliau sampai sekarang (tradisi warisan). Seluruh masyarakat
dari dalam maupun luar Kecamatan Jaya datang untuk menyaksikan upacara
Seumuleueng itu, karena cukup unik dan tidak ada di daerah lain. Sajian upacara
tersebut terdiri dari makanan adat seperti Bu Yapan, Kuah Rayeuk, Takeeh U,
Kuah Pengat dan lauk-pauk lainnya yang dimasak di Gampong Meunasah Rayeuk. Ada
mitos kalau Kuah Rayeuk itu dimasak di gampong lain maka kemungkinan akan
mendatangkan musibah.
Maka ditetapkanlah masakan kuah
rayeuk itu di Gampong Meunasah Rayeuk. Kuah itu untuk dimakan bersama di
Balairung atau Askara. Balai itu dibangun di kaki gunung yang tidak begitu jauh
dengan kompleks makam Po Termeureuhom. Hari itu, keturunan Po Teumeureuhom
berkumpul di Balairung dengan memakai pakaian kebesaran dengan dominasi hitam,
pakai tengkuluk, kain selempang yang panjangnya mencapai tiga meter lebih dan
menggunakan sebilah pedang tanda kebesaran, masyarakat sangat beruntung bila
Nasi Yapan dapat diperoleh dan merasa bersedih apabila nasi tidak didapatnya.
Nasi Yapan adalah nasi yang dimakan keluarga Po Teumeureuhom masa dulu, yang
diyakini masyarakat setempat kalau memakan nasi tersebut akan mendapat barakah
dan bagi anak-anak dengan memakan nasi tersebut dapat terjaga dari
bermacam-macam gangguan makhluk halus dan terhindar dari penyakit.
Acara Sumeuleung raja hanya di
laksanakan sehari saja, tapi bagi warga yang ingin berziarah ke makam dapat
dilakukan setiap hari, meskipun puncak dari para penziarah ke makam Po
Teumeureuhom, adalah 3 hari setelah 10 Dzulhijjah. Dimana rangkaiannya, pada acara
hari pertama adalah Sumeuleung raja dan hari kedua serta ketiga, berziarah ke
makam Po Teumeureuhom.
Adapun makanan yang di hidang di
depan raja adalah menu turun-temurun yang berasal dari kerajaan Daya itu
sendiri. Seperti lobster, ikan dan daging yang merupakan hasil alam terbaik di
daerah Lamno, di hidangkan semua untuk raja sebagai bentuk penghargaan kepada
raja di acara ini.
Setelah proses Sumeuleung raja
selasai, maka semua hadirin akan di persilahkan untuk menikmati jamuan raja.
Para majelis, keluarga dan tamu undangan yang hadir di jamu di balee. Ini
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara raja dan masyarakat lainnya.
Perlengkapan Upacara :
1) Sebidang
tanah lapang sebagai alun-alun untuk para pengunjung upacara. Ditengah-tengah
berdiri sebuah Bangunan yang di sebut Astaka di Raja (Tempat melaksanakan Upacara
Seumeuleng dan Peumeunap)
2) Tidak
jauh dari Astaka terdapat bale peuniyoh untuk para tamu dan pembesar Negeri
yang di undang untuk menyaksikan Upacara
3) Jauh
sedikit dengan Astaka di Raja terdapat bale meunaroi dan jambo Dabeuh (Balai
Persiapan santapan kenduri dan tempat menaruh benda-benda Meureuhom Daya
sebelum dipakai dalam Upacara.
4) Sebuah
badan pelaksanaan yang di jabat secara turun-temurun (terdiri dari pemuka-
pemuka Gampong /Desa Gle Jong dan Masyarakat sekitarnya)
5) Para
peserta upacara yang berperan sebagai Raja, Wajir, Khatib masing-masing satu
orang serta dua orang Khadam yang melayani Raja dan pembesar-pembesar.
6) Disebelah
kiri pentas diraja duduk para Pemimpin Peut Sagoe Daya yaitu teuku Alui Encek, Teuku
Muda Kuala, Johan Syah Banda Meunaga (Kuala Daya) Teuku Perkasa Lamno, dan
keturunan Pahlawan Syah Keuluang.
7)
Pelaksanaan Qurban yang di laksanakan
oleh Pejabat Gampong/Desa Meunaga (Gle Jong).
Jalannya Upacara:
1) Raja
Memasuki Balai Rung (Astaka) dengan di iringi Wazir serta pembantunya di jaga
oleh Panglima. Hadirin menyambut dengan meneriakan ”Daulat Tuanku” semua
hadirin berdiri.
2) Raja
mengambil tempat dan dua orang khadam duduk mengipas Raja.
3) Acara
pembukaan oleh wazir yang mempersilahkan Raja untuk menyampaikan amanat.
4) Kata-kata
amanat Raja.
5)
Doa (Khatam Payang) di bacakan oleh
mufti besar Negeri Daya (Mahdum Syah babah dua) atau oleh Petua Mahkamah Agama
Ranto XII Keuluang-Teunom, yaitu Tengku Chik Rumpet.
Guci
Keramat

Masyarakat setempat mempercayai bahwasanya air yang
didalam guci tersebut dapat menyembuhkan segala penyakit
Ritual ziarah makam dimulai dengan
membasuh kepala beli air yang dianggap suci. Warga antre mendapatkan air itu,
dua petugas memilih berganti dengan gayung dari tempurung kelapa yang telah
diberikan pegangan. Air itu berasal dari sebuah peninggalan Negeri Daya, yang
dialirkan memakai pompa dari sumber air di sela-sela batu bukit.

Penjaga makam, kakek Abidin
Penjaga Makam, Abidin (60 tahun)
mengisahkan, dulunya guci itu bisa diletakkan di sebelah kanan makam para raja.
Konon, airnya terisi sendiri ke dalam guci pada sumber seperti air terjun kecil
di bagian atas bukit, yang tak pernah kering. Pada saat perbaikan tempat
keramat itu, guci dipindahkan ke sebelah kiri makam, dalam bangunan kecil yang
diberi atap. Bagian bawah guci berwarna hitam ditanam di lantai semen.
Usai mencuci muka, sebagian besar
pengunjung mengambil wudhu dan melanjutkan ritual di dalam bangunan makam. Ada
yang shalat sunah dan sebagian berdoa dan melafalkan ayat-ayat suci. Tak lupa
sebagian melapas nazar, bersedekah untuk kemakmuran makam.
Seorang ibu tiba-tiba menghampiri
Abidin dan memberikan sejumlah uang. "Ini sedekah dari Saya dan Anak Saya,
semoga doa Saya dan Anak Saya Menerima Allah," katanya. Tanpa
membicarakan, si Ibu bercerita tentang doa dan harapannya agar menantunya
kembali ke rumah, setelah pergi sekian hari demi cek-cok keluarga. "Adik
dengar sendiri kan? Warga masih sangat percaya tempat ini keramat dan
suci," kata Abdidin.
Para perziarah yang mendatangi
makam. Selain untuk berziarah, warga juga membasuh muka dengan air berasal dari
guci Po Teumeureuhom yang ada di komplek makan, saya melihat antrian panjang
untuk dapat membasuh muka atau sekedar dijadikan air obat yang dapat di minum
langsung dari guci.
Dipercayakan bahwa air yang
mengalir dari guci ini bisa menyembuhkan semua penyakit dan bisa memancarkan
aura wajah. Saya juga dapat informasi bahwa dulu, guci ini sempat di pecahkan
oleh belanda tapi ia bisa menyatu kembali dan air yang keluar dari guci
tersebut berputar atau berupa pusaran, konon katanya.
Jadi akhir nya saya bisa melihat
raja kembali dan proses ada yang dilaksanakan begitu meriah. Pembacaan teks
kerajaan mengunakan bahasa Kerajaan Daya ini mengingatkan saya ke masa lalu
bahwa begitu besar dan jaya nya raja-raja yang ada di Aceh dengan warga yang
ramah dan hasil alam yang melimpah.
Mitos yang dipercaya setempat,
bahwa air yang didalam guci tersebut dulunya tidak akan pernah kering, karena
sebelumnya telah di do’akan oleh para waliyullah terdahulu. Tetapi sekarang
setelah saya menanyakan kepada penjaga makam tentang air yang didalam guci
tersebut, beliau menjawab air tersebut tidak abadi lagi, dan air diisi ulang
setiap harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar