Kamis, 14 November 2019

SEJARAH DAN TRADISI PADA MAKAM PO TEUMEUREUHOM (Aceh Jaya)


SEJARAH DAN TRADISI PADA MAKAM PO TEUMEUREUHOM
(Aceh Jaya)

Pendahuluan
Aceh adalah salah satu wilayah negara republik Indonesia yang begitu beragam dengan kekayaan alam dan budayanya. Saat ini Aceh lebih dikenal dengan nama Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh di masa lalu sebenarnya memiliki sejarah yang sangat panjang dan kompleks, terutama dalam perannya membentuk negara kesatuan republik Indonesia.
Pada masa lalu, sebelum adanya Indonesia, Aceh adalah suatu kerajaan yang sangat kaya raya. Perdagangan di bandar-bandar Aceh bertambah maju setelah Portugis mengalahkan Malaka pada tahun 1511, bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Takut pada Portugis, para pedagang dari Asia dan Arab mulai menghindari Selat Malaka dan beralih ke pelabuhan-pelabuhan di Aceh.
Sejak itu, dominasi Aceh dalam perdagangan dan politik di wilayah itu menguat, dan mencapai puncaknya antara tahun 1610 dan 1640. Karena hidup dalam komunitas terbatas selama beratus-ratus tahun, darah Portugis masih mengalir dalam diri sebagian masyarakat Lamno, terutama yang menetap di Kuala Daya dan Lambeuso serta Ujong Muloh.
Selain identik sebagai daerah asal gadis bermata biru, Lamno juga dikenal sebagai negeri para raja. Tokoh yang sering disebut misalnya Po Teumeureuhom. Bernama lengkap Sultan Alaidin Ri’ayat Syah, dia lah yang membawa Islam menyebar ke kawasan itu.
Pemerhati budaya di Lamno mengatakan, Po Teumeureuhom berasal dari kerajaan Samudra Pasai. Bersama rombongannya, dia mulai melakukan perjalanan mulai dari Desa Mareu mengikuti arah hulu sungai dan kemudian menyisir kawasan pesisir pantai. Dan rombongannya kemudian berhasil menaklukkan raja-raja kecil disepanjang aliran sungai.
Di kawasan itu, awalnya terdapat kerajaan meliputi kerajaan Lamno, Keuluang Daya, Kuala Unga dan Kuala Daya. Setelah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil itu, Po Teumeureuhom tak langsung membubarkannya. Namun Wilayah yang ditaklukinya diberikan hak otonomi dan tunduk dalam Kerajaan Daya atau yang dikenal dengan Meureuhom Daya.
Sebagai bentuk terima kasih rakyat kepada sang raja, digelar lah upacara Peumeunap dan Sumeuleung. Dalam upacara itu raja disuapi nasi yang berasal dari hasil panen terbaik. Upacara penabalan raja ini kemudian dikenang dan dilangsungkan sampai sekarang setiap tanggal 10 Zulhijjah atau pada hari raya kurban (Idul Adha).
Pada kesempatan kali ini, saya mencoba melakukan penelusuran ke salah satu makam salah seorang waliyullah yang bernama Sulthan Salatin Alaiddin Ri’ayat Syah atau lebih dikenal Po Teumereuhom Daya atau Cik Po Kandang. Makam beliau terletak di Gampong Glee Jong  Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya (Lamno), Provinsi Aceh. Ketertarikan saya terhadap  “negeri” tersebut, maka kali ini saya akan mencoba menceritakan hal-hal unik dan sejarah makam tersebut.

Rute Perjalanan Menuju Ke Makam Po Teumeureuhom
Komplek makam Po Teumeureuhom tampak dari satelit

Untuk menuju ke makam Po Teumeureuhom dapat menggunakan jenis transportasi darat seperti sepeda motor, mobil, maupun bus. Rute yang bisa anda tempus dari jalan nasional Banda Aceh-Melaboh, selepas pasar lamno ada persimpangan. Berbelok lah ke kanan untuk meneruskan perjalanan. Jalan tersebut juga untuk menuju ke Dayah BUDI Lamno. Kalau pembaca bingung langsung tanyakan pada warga sekitar kemana jalan ke Dayah BUDI Lamno. Karena dayah tersebut satu jalan untuk menuju ke makam Poe Teumeureuhom Daya. Tetap mengendarai sampai mendekati pantai. Kemudian pandang lah ke atas bukit. Itulah komplek makam po teumeureuhom daya.
Komplek makam dijaga (khadam) oleh seorang kakek. Pembaca bisa menanyakan sejarah raja Po Teumereuhom pada kakek ini. Dalam komplek makam ada balee yang bisa di gunakan untuk tempat istirahat dan juga di sediakan musalla untuk shalat. Makam Po Teumeureuhom dibangun pagar pembatas agar tidak boleh dimasuki oleh orang sembarangan dan di luar pagar makam terdapat air yang terdapat dalam guci masa lalu  berbentuk sumur yang di semen ke lantai serta tidak boleh mengambil air sendiri tanpa diberikan oleh kakek pengkhadam makam. Dari cerita kakek tersebut, selain makam po teumereuhom ada juga makam keluarganya dan ada juga pengikut setia beliau.
Siapa Sultan Shalatin Alaiddin Riayat Syah?
Makam Po Teumeureuhom dan para pengikutnya

Meureuhom Daya merupakan gelaran lain yang diberikan oleh masyarakat lokal kepada Sultan Shalatin Alaiddin Riayat Syah. Selain itu, adapula yang menyebutkan dengan gelaran Chik Po Kandang. Asal-usul dari keturunannya yang dirunut pada prasasti batu nisan seorang putri. Prasasti itu berukir indah dan bertuliskan, “Siti Hur binti Sultan Alaiddin Riayatsyah ibni Raja Madat ibni Abdullah al Malik al Mubin”.
Berdasarkan prasasti batu nisan ini menjelaskan bahwa Sultan Alaidin Riayat Syah atau Meureuhom Daya adalah putera Raja Madat atau yang dikenal sebagai Sultan Inayat Syah. Sultan Inayat Syah adalah putera dari raja Malikul Mubin. Menurut sejarah, Sultan Inayat Syah pernah menjabat raja di Pidie dan kemudian menaklukkan Darul Kamal dan Kuta Alam. Kedua negeri ini terletak di Aceh Besar dan Banda Aceh sekarang. Sultan Inayat Syah disebutkan memiliki tiga orang putera, yaitu Sultan Muzaffar Syah yang mewarisi Darul Kamal. Selanjutnya Sultan Munawarsyah yang mewarisi Kuta Alam dan Sultan Alaiddin Riayatsyah yang menjadi raja di negeri Daya. Sedangkan nama dari dua orang puterinya tidak disebutkan. Ketiga raja tersebut tidak dijelaskan tahun kelahirannya dan siapa yang tertua di antara mereka. Hikayat Aceh menyebutkan bahwa Sultan Alaiddin Riayat Syah juga pernah menjadi raja di Kuta Madat, yang termasuk ke dalam teritorial negeri Pidie.
Raja Abdullah bin Malikul Mubin yang bergelar Sultan Inayat Syah yang mengetahui bahwa Portugis telah mulai menanamkan pengaruhnya di pantai Barat Aceh, khususnya di Daya merasa kuatir akan eksistensi hegemoninya. Pada masa raja inilah dilakukan ekspansi hegemoni ke negeri Daya yang kala itu masih bernama Indra Jaya untuk ditaklukkan. Setelah ditaklukkan oleh Sultan Abdullah bin Malikul Mubin, ia meninggalkan bekas negeri Indra Jaya kembali ke pusat pemerintahan. Selain itu ia juga mengkuatirkan Pidie dari pengaruh Portugis di bagian Utara Aceh di selat Malaka sehingga untuk menggantikan posisinya di sana, ditugaskan puteranya Sultan Alaiddin Riayatsyah yang saat itu sedang berada di Kuta Madat, Pidie. Ekspedisi kontrol hegemoni ke pesisir Barat Aceh tersebut untuk menjalankan misi; Pertama, mengintegrasikan kembali raja-raja kecil di bekas Indra Jaya yang sedang berseteru akibat adanya agitasi dari Portugis, dan mengusir bangsa Peringgi itu dari sana. Kedua, memperkuat kerajaan di pesisir Barat yang dinilai sudah melemah karena pengaruh dari kebudayaan asing sekaligus memperkuat kembali pengaruh Islam di sana.
Menurut pengkhadam makam bahwa Sulthan Salathin Alaiddin Ri’ayat Syah atau Po Teumeureuhom adalah sahabat dari Saidina Ali RA. Sebelum beliau menuju ke Negeri Daya atau sekarang disebut Lamno beliau terlebih dulu singgah di Samudra Pasai.
Tinggalan Sultan Alaidin Riayat Syah di Daya
Dalam Hikayat Aceh disebutkan bahwa di penghujung abad ke-15, di lembah Aceh terdapat dua kerajaan, yaitu Meukuta Alam dan Darul Kamal yang kedua kerajaan ini dipisahkan olah Krueng Aceh. Kedua kerajaan ini selalu bermusuhan, namun tidak dapat menaklukkan lawannya. Untuk memperkuat armadanya Kerajaan Meukuta Alam terus memasok persenjataan melalui teluk Lamri. Dalam Hikayat Aceh disebutkan bahwa dengan kelicikan Sultan Syamsu Syah bin Sultan Munawarsyah dari Meukuta Alam meminang putri Kerajaan Darul Kamal untuk dikawinkan dengan Ali Mughayat Syah dan diterima oleh Sultan Muzaffar Syah, putra Inayat Syah yang memerintah Darul Kamal saat itu. Dalam arak-arakan peminangan disisipi persenjataan dan dilakukan serangan dadakan terhadap Darul Kamal sehingga banyak pembesar-pembesar Darul Kamal terbunuh, termasuk Sultan Muzaffar Syah yang merupakan saudara dari Sultan Alaiddin Riayat Syah. Sejak saat itu Sultan Syamsu Syah memerintah kedua kerajaan tersebut. Peristiwa ini terjadi ketika Sultan Alaidin Riayat Syah yang sedang merintis ekspedisi ke Daya tidak kembali lagi ke pusat kerajaan Darul Kamal yang sudah dikuasai oleh Sultan Syamsu Syah dari Meukuta Alam. Sejak saat itu Sultan Alaiddin Riayat Syah menjadi raja di Kerajaan Daya, sedangkan Darul Kamal sudah direbut oleh Sultan Syamsu Syah.
Sultan Alaiddin Riayatsyah diprediksi memerintah di negeri Daya antara tahun 1480-1492 Masehi. Selama pemerintahannya di sana, beliau berhaasil mengintegrasikan empat negeri, yaitu; Keuluang, Kuala Daya, Lamno dan Unga (bekas Negeri Indra Jaya). Pusat pemerintahannya di pusatkan di Kuta Dalam, Lam Kuta Gampong Gle Jong, Kemukiman Kuala Daya sekarang. Dalam menjalankan roda pemerintahannya sultan dibantu oleh seorang Wazir merangkap Katibul Muluk, seorang Hakim Tinggi, seorang Mufti Besar, seorang Panglima, dan beberapa orang Menteri, serta keempat raja dari negeri Daya yang merangkap sebagai staf sultan dalam setiap sidang perkara yang dianggap urgen.
Sultan Alaiddin Riayat Syah meninggal dunia pada 913 H atau 1492 Masehi dan dimakamkan di bukit yang dinamakan Gle Kandang. Sultan meninggalkan dua orang putera, yaitu Uzir dan Siti Hur. Setelah kemangkatan ayahandanya, Sultan Uzir diceritakan hanya memerintah beberapa tahun saja. Sedangkan putrinya yang bernama Siti Hur diriwayatkan menjadi permaisuri Sultan Ali Mughayat Syah, putra Sultan Syamsu Syah dan kembali lagi ke Daya sampai mangkat di sana.
Beberapa tinggalan lain dari masa Sultan Alaiddin Riayatsyah adalah; Pertama, pembangunan di bidang pertanian dengan intensivikasi, seperti pembuatan sarana dan prasarana seperti pembuatan irigasi dengan saluran-saluran air, dan melakukan ekstensivikasi dengan mencetak persawahan baru. Kedua, menumbuhkembangkan solidaritas dan memperkokoh jatidiri dalam beragama pada masyarakat Daya. Ketiga, melakukan pengkaderisasian angkatan muda untuk memperkuat angkatan perang. Keempat, ekstensivikasi perkebunan lada dengan pemberian insentif secukupnya kepada para petani dan pengusaha.
Tinggalan makam keluarga Sultan Alaiddin Riayat Syah masih ramai dikunjungi masyarakat bekas negeri Daya untuk melepaskan nazar atau sekedar mengambil air di dalam guci yang dipercayai dapat menjadi obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Puncak kedatangan masyarakat Daya tersebut terjadi pada 10, 11, dan 12 Dzulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan upacara Peumeunap dan Seumeuleung. Upacara Peumeunap dan Seumuleueng ini pada awalnya diselenggarakan pada setiap Hari Raya Idul Adha bertepatan tanggal 10 Dulhijjah untuk memperingati pengukuhan Sultan Alaidin Riayatsyah sebagai Sultan di Daya. Tradisi ini sempat stagnan setelah Poteumeureuhom mangkat, namun dilanjutkan kembali pada masa Sultan Jamalul Alam Badrul Munir yang memerintah kerajaan Aceh tahun 1711-1735 M. Pada saat itu, ia sering melakukan kontrol hegemoni di wilayah-wilayahnya untuk memperoleh dukungan karena di Bandar Aceh Darussalam kedudukannya mulai terancam secara internal. Ia membenahi dan menghidupkan kembali tradisi kerajaan Daya sambil mengintegrasikan kembali daerah-daerah tersebut dari konflik internal yang sering terjadi di antara keempat raja di sana. Selama 24 tahun ia berkuasa, tradisi ini masih diselenggarakan. Setelah Kabupaten Aceh Barat lahir, bekas negeri Daya terintegrasi ke dalam beberapa kecamatan dalam kabupaten tersebut.
Pada masa ini pelaksanaan tradisi Peumeunap dan Seumeuleung diundur dari 10 Dzulhijjah menjadi 11 Dzulhijjah, mengingat pusat pemerintahan jauh dari lokasi pelaksanaan acara ini. Hal ini dilakukan sebagai wujud sinergis antara pemangku di bekas Kerajaan di Daya dengan petinggi di pusat pemerintahan di Meulaboh pada saat itu. Saat ini, bekas daerah negeri Daya telah berintegrasi ke Kabupaten Aceh Jaya, sehingga ada wacana untuk mengembalikan orisinalitas sesuai aslinya mengingat jarak antara ibukota pemerintahan Aceh Jaya tidak terlalu jauh dengan Kecamatan Jaya.
Selain upacara Peumeunap dan Seumeuleung, antusiasme masyarakat di bekas negeri Daya terhadap Poteumeureuhom sampai saat ini sangat tinggi. Hal ini nampak dari keramaian pengunjung berziarah ke Makam ini untuk melepas nazar atau sekedar mengambil air dari dalam “guci keramat” yang ada di kompleks Makam Gle Kandang, pada tanggal 10, 11, dan 12 Dulhijjah, bahkan pada hari-hari biasa pun masih ada saja masyarakat yang datang ke sana untuk berziarah atau melepas nazar. Selain itu masih banyak tinggalan di sekitar negeri Daya lainnya seperti: Makam Tuan Gle Pande seorang ahli persenjataan dan peralatan perang di gampong Pante Ceureumen, Makam Tuan Beureuha ahli pertanian sawah dan pengairan di Beureuha. Makam Tuan Meuntee asisten pertanian dan pengairan Tuan Beureuha dekat irigasi Beureuha. Makam Tuan Po Katong ahli peperangan di hulu Krueng Gapa. Makam Tuan Pante Ceureumen seorang ahli pemerintahan permukiman, sanitasi, dan kesehatan masyarakat di Pante Ceureumen. Makam Tuan Mareu ahli astronomi pertanian, pembuka kampung Mareu di Gampong Sabet. Makam Tuan Paloih ahli kebijakan pertanian, mulai sejak pembibitan sampai ke penanaman serentak. Makam Tuan Seulatan ahli penjinak binatang buas, ilmu kebal, juga ilmu besi di selatan Pantee Ceureumen. Makam Tuan Bak Awe, seorang pengajar karakter masyarakat di Pante Ceureumen. Makam Tuan Rhang, merupakan anak Tuan Po Katong di hulu Krueng Gapa.
Gle Kandang dan Kandang Po Teumeureuhom
Menelusuri jejak sejarah lokal negeri Daya, seperti belum lengkap rasanya jika tidak menjejakkan kaki terlebih dulu di Kompleks Makam Poteumereuhom yang disebut Gle Kandang. Gle Kandang terletak di atas sebuah bukit berundak dengan tatakan 99 anak tangga di Gampong Gle Jong, Kemukiman Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Kompleks makam ini juga disebut juga oleh masyarakat dengan nama Kandang Poteumeureuhom. “Kandang” di dalam konteks keacehan merupakan suatu kompleks pemakaman, seperti juga yang dikenal di kerajaan Aceh Darussalam yaitu “Kandang Aceh”, “Kandang Meuh”, “Kandang Duabelas”, ataupun “Kandang Pirak” di kompleks pemakaman raja-raja di Aceh.
Jika diamati di Kompleks Makam Raja Negeri Daya di Gle Kandang, selain makam Poteumeureuhom juga terdapat beberapa batu nisan dengan Batee Aceh yang kemungkinannya terdiri dari raja, permaisuri, anak, serta kerabat Dalam. Di antaranya Sultan Alaidin Riayatsyah, Uzir, Siti Hur serta beberapa makam lainnya. Di Batu Aceh di kompleks pemakaman Poteumeureuhom Daya, terdapat prasasti pada nisan Siti Hur yang paling indah dan masih dapat dibaca karena berhuruf arab jawi. Dari sana diketahui bahwa Siti Hur adalah anak perempuan dari raja Daya Sultan Alaiddin Riayatsyah. Ia adalah permaisuri dari Sultan Ali Mughayatsyah penguasa pertama yang menyatukan Kesultanan Aceh Darussalam
Di Gle Kandang saat ini, selain nisan Batu Aceh dan sebuah guci tempat air wudhuk juga terdapat dua buah tempat peristirahatan para penzirah. Di tatakan tangganya terdapat dua buah “jambo peuniyoh” sebagai tempat istirahat para penziarah yang sudah berusia lanjut. Selain itu, di pelataran bawah terdapat sebuah bangunan balairung berbentuk rangkang. Selain itu tidak banyak lagi tersisa tinggalan arkeologis lainnya. Hal itu terjadi setelah daerah ini diluluhlantakkan gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. 
Panorama bekas negeri Daya dari atas bukit Gle Kandang sangat indah. Terlihat hamparan luas menghijau persawahan dengan bukit-bukit kecil dan pegunungan di Utara negeri ini. Sedangkan di bagian Baratnya, menghampar biru Samudera Indonesia dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Tempat ini sepertinya benar-benar merepresentasikan “persinggahan terakhir” sang raja yang luar biasa. Sekitar 500 meter dari kompleks Gle Kandang terdapat suatu daerah secara toponim bernama Kuta Dalam. Kuta Dalam identik dengan kompleks istana Kerajaan Daya. “Kuta” identik dengan “Benteng” atau “Perkampungan”, sedangkan “Dalam” adalah “Istana”,“Kompleks Kerajaan” ataupun “Keraton”. Namun tidak ada sedikit pun tinggalan arkeologis yang dapat menjelaskan secara faktual tentang hal tersebut. Bukti lain yang bersifat intangible sebagai tinggalan budaya masa lalu yang bertahan dan sangat unik dalam masyarakat Daya adalah upacara Peumeunap dan Seumuleueng.
Tradisi Upacara Seumuleueng
Pada setiap Hari Raya Idul Adha, di makam ini diadakan upacara "Seumeulueng" yaitu suatu upacara untuk memperingati Sultan Alaiddin Riatsyah (Po Teumeurehom Daya) yang dilaksanakan oleh keturunan-keturunan beliau sampai sekarang (tradisi warisan). Seluruh masyarakat dari dalam maupun luar Kecamatan Jaya datang untuk menyaksikan upacara Seumuleueng itu, karena cukup unik dan tidak ada di daerah lain. Sajian upacara tersebut terdiri dari makanan adat seperti Bu Yapan, Kuah Rayeuk, Takeeh U, Kuah Pengat dan lauk-pauk lainnya yang dimasak di Gampong Meunasah Rayeuk. Ada mitos kalau Kuah Rayeuk itu dimasak di gampong lain maka kemungkinan akan mendatangkan musibah.
Maka ditetapkanlah masakan kuah rayeuk itu di Gampong Meunasah Rayeuk. Kuah itu untuk dimakan bersama di Balairung atau Askara. Balai itu dibangun di kaki gunung yang tidak begitu jauh dengan kompleks makam Po Termeureuhom. Hari itu, keturunan Po Teumeureuhom berkumpul di Balairung dengan memakai pakaian kebesaran dengan dominasi hitam, pakai tengkuluk, kain selempang yang panjangnya mencapai tiga meter lebih dan menggunakan sebilah pedang tanda kebesaran, masyarakat sangat beruntung bila Nasi Yapan dapat diperoleh dan merasa bersedih apabila nasi tidak didapatnya. Nasi Yapan adalah nasi yang dimakan keluarga Po Teumeureuhom masa dulu, yang diyakini masyarakat setempat kalau memakan nasi tersebut akan mendapat barakah dan bagi anak-anak dengan memakan nasi tersebut dapat terjaga dari bermacam-macam gangguan makhluk halus dan terhindar dari penyakit.
Acara Sumeuleung raja hanya di laksanakan sehari saja, tapi bagi warga yang ingin berziarah ke makam dapat dilakukan setiap hari, meskipun puncak dari para penziarah ke makam Po Teumeureuhom, adalah 3 hari setelah 10 Dzulhijjah. Dimana rangkaiannya, pada acara hari pertama adalah Sumeuleung raja dan hari kedua serta ketiga, berziarah ke makam Po Teumeureuhom.
Adapun makanan yang di hidang di depan raja adalah menu turun-temurun yang berasal dari kerajaan Daya itu sendiri. Seperti lobster, ikan dan daging yang merupakan hasil alam terbaik di daerah Lamno, di hidangkan semua untuk raja sebagai bentuk penghargaan kepada raja di acara ini.
Setelah proses Sumeuleung raja selasai, maka semua hadirin akan di persilahkan untuk menikmati jamuan raja. Para majelis, keluarga dan tamu undangan yang hadir di jamu di balee. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara raja dan masyarakat lainnya.
Perlengkapan Upacara :
1)      Sebidang tanah lapang sebagai alun-alun untuk para pengunjung upacara. Ditengah-tengah berdiri sebuah Bangunan yang di sebut Astaka di Raja (Tempat melaksanakan Upacara Seumeuleng dan Peumeunap)
2)      Tidak jauh dari Astaka terdapat bale peuniyoh untuk para tamu dan pembesar Negeri yang di undang untuk menyaksikan Upacara
3)      Jauh sedikit dengan Astaka di Raja terdapat bale meunaroi dan jambo Dabeuh (Balai Persiapan santapan kenduri dan tempat menaruh benda-benda Meureuhom Daya sebelum dipakai dalam Upacara.
4)      Sebuah badan pelaksanaan yang di jabat secara turun-temurun (terdiri dari pemuka- pemuka Gampong /Desa Gle Jong dan Masyarakat sekitarnya)
5)      Para peserta upacara yang berperan sebagai Raja, Wajir, Khatib masing-masing satu orang serta dua orang Khadam yang melayani Raja dan pembesar-pembesar.
6)      Disebelah kiri pentas diraja duduk para Pemimpin Peut Sagoe Daya yaitu teuku Alui Encek, Teuku Muda Kuala, Johan Syah Banda Meunaga (Kuala Daya) Teuku Perkasa Lamno, dan keturunan Pahlawan Syah Keuluang.
7)      Pelaksanaan Qurban yang di laksanakan oleh Pejabat Gampong/Desa Meunaga (Gle Jong).



Jalannya Upacara:
1)      Raja Memasuki Balai Rung (Astaka) dengan di iringi Wazir serta pembantunya di jaga oleh Panglima. Hadirin menyambut dengan meneriakan ”Daulat Tuanku” semua hadirin berdiri.
2)      Raja mengambil tempat dan dua orang khadam duduk mengipas Raja.
3)      Acara pembukaan oleh wazir yang mempersilahkan Raja untuk menyampaikan amanat.
4)      Kata-kata amanat Raja.
5)      Doa (Khatam Payang) di bacakan oleh mufti besar Negeri Daya (Mahdum Syah babah dua) atau oleh Petua Mahkamah Agama Ranto XII Keuluang-Teunom, yaitu Tengku Chik Rumpet.
Guci Keramat
Masyarakat setempat mempercayai bahwasanya air yang didalam guci tersebut dapat menyembuhkan segala penyakit

Ritual ziarah makam dimulai dengan membasuh kepala beli air yang dianggap suci. Warga antre mendapatkan air itu, dua petugas memilih berganti dengan gayung dari tempurung kelapa yang telah diberikan pegangan. Air itu berasal dari sebuah peninggalan Negeri Daya, yang dialirkan memakai pompa dari sumber air di sela-sela batu bukit.
Penjaga makam, kakek Abidin

Penjaga Makam, Abidin (60 tahun) mengisahkan, dulunya guci itu bisa diletakkan di sebelah kanan makam para raja. Konon, airnya terisi sendiri ke dalam guci pada sumber seperti air terjun kecil di bagian atas bukit, yang tak pernah kering. Pada saat perbaikan tempat keramat itu, guci dipindahkan ke sebelah kiri makam, dalam bangunan kecil yang diberi atap. Bagian bawah guci berwarna hitam ditanam di lantai semen.
Usai mencuci muka, sebagian besar pengunjung mengambil wudhu dan melanjutkan ritual di dalam bangunan makam. Ada yang shalat sunah dan sebagian berdoa dan melafalkan ayat-ayat suci. Tak lupa sebagian melapas nazar, bersedekah untuk kemakmuran makam.
Seorang ibu tiba-tiba menghampiri Abidin dan memberikan sejumlah uang. "Ini sedekah dari Saya dan Anak Saya, semoga doa Saya dan Anak Saya Menerima Allah," katanya. Tanpa membicarakan, si Ibu bercerita tentang doa dan harapannya agar menantunya kembali ke rumah, setelah pergi sekian hari demi cek-cok keluarga. "Adik dengar sendiri kan? Warga masih sangat percaya tempat ini keramat dan suci," kata Abdidin.
Para perziarah yang mendatangi makam. Selain untuk berziarah, warga juga membasuh muka dengan air berasal dari guci Po Teumeureuhom yang ada di komplek makan, saya melihat antrian panjang untuk dapat membasuh muka atau sekedar dijadikan air obat yang dapat di minum langsung dari guci.
Dipercayakan bahwa air yang mengalir dari guci ini bisa menyembuhkan semua penyakit dan bisa memancarkan aura wajah. Saya juga dapat informasi bahwa dulu, guci ini sempat di pecahkan oleh belanda tapi ia bisa menyatu kembali dan air yang keluar dari guci tersebut berputar atau berupa pusaran, konon katanya.
Jadi akhir nya saya bisa melihat raja kembali dan proses ada yang dilaksanakan begitu meriah. Pembacaan teks kerajaan mengunakan bahasa Kerajaan Daya ini mengingatkan saya ke masa lalu bahwa begitu besar dan jaya nya raja-raja yang ada di Aceh dengan warga yang ramah dan hasil alam yang melimpah.
Mitos yang dipercaya setempat, bahwa air yang didalam guci tersebut dulunya tidak akan pernah kering, karena sebelumnya telah di do’akan oleh para waliyullah terdahulu. Tetapi sekarang setelah saya menanyakan kepada penjaga makam tentang air yang didalam guci tersebut, beliau menjawab air tersebut tidak abadi lagi, dan air diisi ulang setiap harinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar